Hal ini disampaikan Dony saat menjelaskan soal banyaknya BUMN mengalami masalah karena pengelolaannya berjalan sendiri-sendiri.
Sebelumnya Kementerian BUMN hanya memiliki kuasa kelola dan bukan pemilik langsung perusahaan-perusahaan pelat merah. Akibatnya, ketika ada BUMN yang mengalami kesulitan, perusahaan lain tidak bisa ikut membantu.
“Tetapi karena tidak ada mekanisme untuk membantu satu BUMN dan BUMN lain, menyebabkan sulit untuk kita melakukan perbaikan,” jelasnya.
Dony menjelaskan kehadiran Danantara diharapkan menjadi solusi karena seluruh BUMN kini dikonsolidasikan dalam satu holding company sehingga proses penyehatan perusahaan menjadi lebih mudah dilakukan.
Danantara merupakan sovereign wealth fund berbasis BUMN atau state-owned enterprise based sovereign wealth fund.
Dengan model tersebut, perusahaan-perusahaan besar seperti Bank Mandiri, BRI, Krakatau Steel, Garuda, Pertamina, hingga PLN kini berada dalam satu holding sehingga lebih mudah dikelola secara terintegrasi.
” Nah dengan disatukannya terkonsolidasi menyebabkan mudah bagi kita dalam pengelolaan BUMN-BUMN kita. Jadi sekarang itu antara Bank Mandiri, Bank BRI, kemudian juga Krakatau Steel, Garuda, Pertamina, PLN itu menjadi satu holding company,” tutup Dony.(dtk)












