Sementara itu, asap terpantau menyebar di sejumlah wilayah, mulai dari Sumatera hingga Papua.
BMKG menyebut tingginya jumlah titik panas tersebut meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi ini sejalan dengan semakin keringnya lahan di sejumlah daerah, terutama wilayah yang mengalami periode tanpa hujan berkepanjangan.
“Berdasarkan hasil pemantauan pada 14 Oktober 2026, teridentifikasi 1.297 titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi,” tulis BMKG dalam keterangannya, Jumat (16/10/2026).
Berdasarkan data BMKG, sebaran titik panas terbanyak berada di Sumatera dengan 505 titik, disusul Kalimantan sebanyak 346 titik serta Papua dan Maluku sebanyak 330 titik.
Sementara itu, Sulawesi terpantau memiliki 66 titik panas, Nusa Tenggara 38 titik, dan Jawa sebanyak 12 titik.
Selain memantau titik panas, BMKG juga mendeteksi sebaran asap melalui citra satelit Himawari. Pengamatan pada 15 Oktober 2026 pukul 13.00 WIB menunjukkan asap menyebar di sebagian besar wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
“Sebaran titik panas dan asap tersebut menunjukkan bahwa potensi karhutla masih menjadi perhatian, khususnya pada wilayah yang mengalami defisit hujan dan memiliki kondisi vegetasi yang kering,” paparnya.
BMKG mengingatkan masyarakat dan pihak terkait untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla, terutama di daerah dengan curah hujan rendah dan vegetasi yang mulai mengering. Kondisi lahan yang kering dapat meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran, sehingga upaya pencegahan dan pemantauan perlu terus dilakukan. (In)












