CORAKNEWS.COM, JAKARTA – Pemerintah memilih untuk berhemat agar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) bisa tetap dijaga di level 3% terhadap produk domestik bruto (PDB). Penghematan ini dilakukan untuk meminimalisir dampak perang Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengungkapkan upaya yang dilakukan pemerintah untuk menghemat belanja. Menurutnya, tanpa ada perang AS dan Iran, efisiensi anggaran memang sudah dilakukan pemerintah.
” Satu sisi memang tanpa ada kejadian kemarin pun kita itu terus berusaha untuk melakukan apa yang namanya penyisiran terhadap kegiatan atau mata anggaran yang sebagaimana tahun lalu. Contoh perjalanan dinas ke luar negeri, itu terus kami perketat, bahkan saya selaku Mensesneg yang bagian ujung mengeluarkan izin itu memperketat perjalanan ke luar negeri,” kata Prasetyo di Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, Selasa (17/3/2026).
Dia kembali menekankan pemerintah sudah rutin untuk menyisir anggaran yang tidak produktif dan bisa ditunda penggunaannya dipangkas terlebih dahulu.
” Kami itu sering koordinasi dan berkumpul untuk melakukan proses tadi itu. Disisir ulang mana yang tidak produktif mana yang bisa ditunda, misalnya pembangunan gedung yang sifatnya belum ada tidak mengganggu kinerja kementerian tuh kita tunda dulu. Itu ada masuk di dalam tempat kami tempat saya dan tentu di Kemenkeu,” jelas Prasetyo.
Ketika ditanya apakah belanja program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga Koperasi Merah Putih kemungkinan ikut dipangkas, Prasetyo bilang anggaran program itu tidak akan dipangkas.
” Nggak dong. Kita lebih memilih untuk kurangi belanja-belanja yang tidak efektif lah, atau kurang berdampak itu yang direalokasi agar program yang produktif, berdampak, dan membantu meringankan beban masyarakat itu yang diutamakan,” kata Prasetyo.(rel)












