Daerah  

Dari Jakarta Nikolas Naibaho : Ini Teladan untuk Indonesia, Jonson Gultom : Dana dari Gaji Bukan APBD

CORAKNEWS.COM, SAMOSIR, – Guru bukan hanya mengajar, tapi juga menyembuhkan luka. Jajaran Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Samosir membuktikan itu dengan menggelontorkan *donasi kemanusiaan total Rp72.000.000* untuk pemulihan batin dan rohani warga korban 4 tragedi di Samosir, Kamis (7/5/2026).

Dana sebesar itu murni dihimpun secara sukarela dari penyisihan gaji staf dinas, kepala sekolah, pengawas, dan guru SD/SMP se-Kabupaten Samosir. Bukan dari APBD Ini wujud nyata solidaritas insan pendidikan Samosir untuk kemanusiaan.

Aksi kemanusiaan yang menggema hingga Jakarta ini menuai apresiasi tinggi dari Ketua Yayasan Siraja Batak, Ir. Nikolas Naibaho, MBA. Saat dihubungi CORAKNEWS.COM via seluler, Jumat (8/5/2026), Nikolas tak kuasa menahan haru.

“Saya terharu! Ini baru guru sejati. Di tengah keterbatasan, jajaran Disdik Samosir rela potong gaji untuk bantu rakyat yang berduka. Rp72 juta bukan dari APBD, tapi dari gaji guru. Samosir harus bangga. Ini teladan untuk Indonesia,” egas Nikolas dari Jakarta.

“Terima kasih Kadis Pendidikan Jonson Gultom dan Ketua PGRI Rianto Naibaho, S.Pd beserta seluruh guru. Semoga Tuhan membalas berlipat ganda. Tetap semangat mencerdaskan anak bangsa,” tambahnya.

Pujian itu dialamatkan atas aksi Disdik Samosir di bawah Kadis Jonson Gultom, S.Pd, yang menyalurkan donasi ke 4 titik duka:

Rincian penyaluran donasi Rp72 Juta:

1. *Rp42.000.000* – Untuk keluarga korban *kebakaran di Desa Dosroha, Kecamatan Simanindo*

2. *Rp12.000.000* – Untuk keluarga Rabando Sitanggang korban *rumah tertimpa pohon kemiri di Desa Pardugul, Kecamatan Pangururan*

3. *Rp8.000.000* – Untuk ES (10) & MS (9), siswa *SDN 4 Marlumba korban dugaan penganiayaan ibu tiri di Desa Marlumba, Kecamatan Simanindo*

4. *Rp10.000.000* – Untuk keluarga korban *anak tenggelam di Desa Hariara Pintu, Tele, Kecamatan Harian*

Kadis Pendidikan Samosir Jonson Gultom, S.Pd, MM menegaskan, donasi ini bukan sekadar bantuan materi, tapi terapi batin. “Guru harus hadir saat masyarakat berduka. Kami ingin sampaikan: kalian tidak sendiri. Anak-anak korban harus tetap sekolah, tetap bermimpi. Itu misi kami,” tegasnya.

Ketua PGRI Samosir Rianto Naibaho, S.Pd menambahkan, gerakan ini bukti PGRI hidup. “Ini pendidikan karakter yang nyata. Guru Samosir bukan cuma di kelas, tapi di tengah duka rakyat,” ujarnya. (SS).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *